Senin, 28 November 2011

ASKEP SYOK


SYOK                    
1.   Pengertian Syok
Syok didefinisikan sebagai kondisi kompleks yang mengancam jiwa, yang ditandai dengan tidak adekuatnya aliran darah ke jaringan dan sel-sel tubuh (Rice 1991). Komponen-komponen aliran darah yang adekuat bagi jaringan dan sel-sel tubuh adalah:
a.       Pompa jantung yang adekuat
b.      Vascular atau system sirkulasi yang efektif
c.       Volume darah yang adekuat.
Syok mempengaruhi semua system tubuh. Syok dapat berlangsung secara cepat atau lambat. Tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Selama proses syok, tubuh berjuang mengatasi syok dengan cara mengaktifkan semua mekanisme homeostatic untuk mengembalikan aliran darah dan perfusi jaringan. Syok dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai komplikasi penyakit dan oleh karenanya semua pasien mempunyai potensi untuk mengalami syok (Rice 1991).
2.      Klasifkasi syok
Berdasarkan etiologinya:
a.       Syok Hipovolemik, terjadi jika terdapat penurunan volume intravaskuler.
Syok yang disebabkan karena tubuh :
- Kehilangan darah/syok hemoragik
Hemoragik eksternal : trauma, perdarahan gastrointestinal
   Hemoragik internal : hematoma, hematotoraks
- Kehilangan plasma : luka bakar
- Kehilangan cairan dan elektrolit
   Eksternal : muntah, diare, keringat yang berlebih
   Internal : asites, obstruksi usus
b.      Syok kardiogenik, terjadi jika terdapat gangguan kemampuan pompa jantung, yang dapat berasal dari koroner atau non koroner.
Gangguan perfusi jaringan yang disebabkan karena disfungsi jantung misalnya : aritmia, AMI (Infark Miokard Akut).


c.       Syok distributive atau vasogenik, terjadi jka terdapat gangguan aliran darah pada vascular. Syok jenis ini, bisa dibagi dalam beberapa jenis, yaitu:
v  Syok Septik
Syok yang terjadi karena penyebaran atau invasi kuman dan toksinnya didalam tubuh yang berakibat vasodilatasi.
v  Syok Anafilaktif
Gangguan perfusi jaringan akibat adanya reaksi antigen antibodi yang mengeluarkan histamine dengan akibat peningkatan permeabilitas membran kapiler dan terjadi dilatasi arteriola sehingga venous return menurun. Misalnya : reaksi tranfusi, sengatan serangga, gigitan ular berbisa
v  Syok Neurogenik
Pada syok neurogenik terjadi gangguan perfusi jaringan yang disebabkan karena disfungsi sistim saraf simpatis sehingga terjadi vasodilatasi. Misalnya : trauma pada tulang belakang, spinal syok
d.      Syok kardiogenik non koroner
 Syok obstruktif, syok yang disebabkan oleh gangguan yang menyebabkan obstruksi mekanik pada aliran darah melalui system sirkulasi sentral meskipun fungsi miokardium dan volume intravascular normal. Ketidakmampuan ventrikel untuk mengisi selama diastol sehingga secara nyata menurunkan volume sekuncup dan rendnya curah jantung
Contohnya: emboli paru, temponet jantung, aneurisme aorta di sekan aorta, dan tensi pneumotorak, tamponade kordis, koarktasio aorta, hipertensi pulmoner primer.



3.      Patofisiologi syok
Syok menunjukkan perfusi jaringan yang tidak adekuat. Hasil akhirnya berupa lemahnya aliran darah yang merupakan petunjuk yang umum, walaupun ada bermacam-macam penyebab. Syok dihasilkan oleh disfungsi empat sistem yang terpisah namun saling berkaitan yaitu ; jantung, volume darah, resistensi arteriol (beban akhir), dan kapasitas vena. Jika salah satu faktor ini kacau dan faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi maka akan terjadi syok. Awalnya tekanan darah arteri mungkin normal sebagai kompensasi peningkatan isi sekuncup dan curah jantung. Jika syok berlanjut, curah jantung menurun dan vasokontriksi perifer meningkat.
4.      Tinjauan fase syok
v Fase kompensatori
Tekanan darah pasien masih dalam batas normal, terjadi vasokonstriksi, peningkatan frekuensi jantuk, peningkatan kontraktilitas jantung, semua itu berpengaruh dalam mempertahankan jaktung yang adekuat.  Yang diakibatkan oleh stimulasi system saraf simpatis dan pelepasan katekolamin (epinefrin dan non epinefrin). Pasien dalam tahap syok ini, sering disebut sebagai respon “fight or flight”.
·      Penatalaksanaan Keperawatan
Untuk mengkaji perfusi jaringan yang tidak adekuat, maka dilakuakan:
·         Memantau perubahan-perubahan dalam tingkat kesadaran, kulit, haluaran urin, dan tanda-tanda vital.
·         Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (dalam tahap ini glukosa darah menigkat dalam respon terhadap pelepasan ADH dan katekolamin)
·         Memantau status hemodinamik pasien dan melaporkan penyimpangan yang terjadi kepada dokter.
·         Membantu mengidentifikasi dan mengatasi kelainan mendasar melalui pengkajian pasien secara mendalam.
·         Memberikan cairan dan medikasi yang diresapkan dan menigkatkan keselamatan pasien dan memantau kesehatan pasien selama pengibatan dan mengkaji efek pengobatan, respon pasien dan keluarga.
·         Penatalaksanaan Medis
Ø  Pengobatan medis pada tahap syok kompensatori diarahkan untuk mengidentifikasi penyebab syok, memperbaiki gangguan yang mendasari sehingga syok tidak berlanjut, dan mendukung mekanisme fisiologis yang sejauh ini telah berespons secara berhasil dalam pengobatan.
Ø  Karena kompensasi tidak dapat dipertahankan secara efektif dalam waktu yang tidak pasti, tindakan seperti penggantian cairan dan penggunaan medikasi harus dilakukan untuk mempertahankan tekanan darah yang adekuat dan memulihkan serta mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.    
v Fase Progresif
           Pada fase ini, mekanisme yang mengatur tekanan darah tidak mampu untuk terus mengkompensasi dan tekanan arteri rerata (MAP) turun dibawah batas normal dengan tekanan darah sistolik rata-rata kurang dari 80 sampai 90 mm Hg (Rice,1991b). dua hal yang memperjelas sindrom syok yaitu,:
·         Jantung yang bekerja keras menjadi iskemik, yang mengarah pada gagal pemompaan jantung bahwa ketika penyebab mendasar  bukan berasal dari jantung.
·         Fungus otoregulasi mikrosirkulasi gagal berespon terhadap berbagai mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel, yang mengakibatkan peningkatan permeabelitas kapiler.
           Pada fase ini, prognosis pasien memburuk. Relaksasi spinkter prekapiler menyebabkan cairan merembes dari kapiler, dan lebih sedikit cairan yang kemudian dikembalikan ke jantung.



·      Penatalaksanaan keperawatan
Ø  Asuhan keperawatan pasien dalam syok fase progresif membutuhkan keahlian dalam mengkaji dan memahami syok serta signifikansi dalam data pengkajian.
Ø  Pentingnya pemantauan yang ketat yang meliputi pemantauan hemodinamik,pemantauan elektrokardiografik (EKG), gas-gas darah arteri, kadar elektrolit serum, dan perubahan fisik dan mental.
Ø  Bekerjasama secara erat dengan anggota tim perawatan kesehatan lainnya, perawat harus secara cermat mendokumentasikan pengobatan, medikasi, dan caran yang diberikan oleh semua anggota tim, mencatat waktu, dosis atau volume, dan respons pasien.
Ø  Mengkoordinasibaik penjadwalan prosedur diasnogtik yang sering dilakukan sementara pasien ditempat tidur dan alr personel perawatan kesehatan yang terlibat dalam perawatan pasien.
Ø  Jika teknologi supportif digunkan, perawat beruaya  untuk mengurangi resiko komplikasi yang akan terjadi akibat penggunaannya dan memantau pasien terhadap tanda-tanda dini komplikasi(misal, memantau kadar medikasi dalam darah, memantau status neurovaskuler jika dipasang jalur arteri, terutama pada ekstremitas bawah).
Ø  Perawat memastikan keselamatan dan kenyamanan pasien dengan memastikan bahwa semua prosedur, termasuk prosedur invasive dilakukan dengan menggunakan teknik yang tepat dan bahwa letak fungsi vena dan arteri diatasi dengan tujuan mencegah infeksi.
Ø  Pengaturan posisi dan memposisikan kembali pasien untuk kenyamanan mencegah komplikasi pulmonary dan untuk mempertahankan integritas kulit.





·      Penatalaksanaan Medis
Ø  Penggunaan cairan intravena yang sesuai dan medikasi untuk memulihkan perfusi jaringan melalui: mengoptimalkan volume darah, mendukung kerja pemompa jantung, dan memperbaiki kompetensi system vaskuler.
Ø  Dukungan nutrisi dan penggunaan bloker-H2 seperi simetidin dan ranitidine untuk mengurangi resiko perdarahan gastrointestinal.  
v  Fase Ireversibel
           Pada tahap ini, menunjukan titik sepanjang kontinim syok di mana kerusakan organ sudah sangat parah sehingga pasien tidak berespon terhadap pengobatan dan tidak mampu bertahan. Bisa mengakibatkan gagal ginjal dan hepar komplit, dibarengi dengan pelepasan toksik jaringan nekrotik, menciptakan jaringan asidosis metabolic yang hebat. Metabolisme anaerob lebih memperburuk asidosis laktat.
           Simpanan ATP hampir  semua menipis dam mekanisme untuk penyimpanan pasokan energi baru telah mengalami kerusakan. Kegagalan organ multiple dapat terjadi sebagai progresi sepanjang kontinum syok atau sebagai sindrom itu sendiri.
·      Penatalaksanaan keperawatan
Ø  Seperti pada fase progresif, perhatian perawat teus diarahkan pada pelaksanaan modalitaspengobatan yang diharuskan, memantau pasien, mencegah komplikasi, melindungi pasien dari cedera, dan memberikan kenyamanan.
Ø  Memberikan penjelasan singkat pada pasien tentang apa yang sedang terjadi adalah penting bahkan ketika tidak ada kepastian apakah pasien mendengar atau memahami apa yang sedang dikatakan.








·      Penatalaksanaan Medis
Ø  Penatalaksanaan medis selama tahap syok ini biasanya sama dengan tahap progresif. Meskipun syok pasien dapat berkembang dari tahap progresif ke tahap irreversible, penilaian bahwa syok ireversibel hanya dapat dibuat secara retrospektif dngan dasar dari kegagalan pasien untuk berespons terhadap pengobatan. Strategi yang mungkin eksperimental yaitu obat-obat dalam penelitian mungkin digunakan dalam upaya untuk mengurangi atau menghambat keparahan syok pasien.
5.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tergantung pada penyebab syok (kecuali syok neurogenik). Antara lain  meliputi :
1. Sistem pernafasan : nafas cepat dan dangkal
2. Sistem sirkulasi : ekstremitas pucat, dingin, dan berkeringat dingin, nadi cepat  dan lemah, tekanan darah turun bila kehilangan darah mencapai 30%.
3.Sistem saraf pusat : keadaan mental atau kesadaran penderita bervariasi tergantung derajat asyok, dimulai dari gelisah, bingung sampai keadaan tidak sadar.
4. Sistem pencernaan : mual, muntah
5. Sistem ginjal : produksi urin menurun (Normalnya 1/2-1 cc/kgBB/jam)
6. Sistem kulit/otot : turgor menurun, mata cekung, mukosa lidah kering.
7. Individu dengan syok neurogenik akan memperlihatkan kecepatan denyut jantung yang normal atau melambat, tetapi akan hangat dan kering apabila kulitnya diraba.

6.      Derajat Syok
Menentukan derajat syok :
1. Syok Ringan
Penurunan perfusi hanya pada jaringan dan organ non vital seperti kulit, lemak, otot rangka, dan tulang. Jaringan ini relatif dapat hidup lebih lama dengan perfusi rendah, tanpa adanya perubahan jaringan yang menetap (irreversible). Kesadaran tidak terganggu, produksi urin normal atau hanya sedikit menurun, asidosis metabolik tidak ada atau ringan.
2. Syok Sedang
Perfusi ke organ vital selain jantung dan otak menurun (hati, usus, ginjal). Organ-organ ini tidak dapat mentoleransi hipoperfusi lebih lama seperti pada lemak, kulit dan otot. Pada keadaan ini terdapat oliguri (urin kurang dari 0,5 mg/kg/jam) dan asidosis metabolik. Akan tetapi kesadaran relatif masih baik.
3. Syok Berat
Perfusi ke jantung dan otak tidak adekuat. Mekanisme kompensasi syok beraksi untuk menyediakan aliran darah ke dua organ vital. Pada syok lanjut terjadi vasokontriksi di semua pembuluh darah lain. Terjadi oliguri dan asidosis berat, gangguan kesadaran dan tanda-tanda hipoksia jantung (EKG abnormal, curah jantung menurun).

          






REFERENSI

Suddarth & Brunner,Keperawatan Medikal Bedeah.Jakarta.EGC.1997.
Perry & Potter, Fundamental Keperawatan. Jakarta. EGC. 1997
Doenges,E Marlynn,dkk. Rencana Asuhan Kperawatan. Jakarta. EGC.1993

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar